CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 04 April 2014

We're Running Out of Time

Ketika menulis ini, waktu sedang terus berjalan dan merayap mendekati H-10 menuju Ujian Nasional. Semakin dekat dengan Hari H, semakin terpacu semangat teman-temanku untuk belajar. Bukan hanya teman-teman, tapi juga semangatku tiba-tiba melecut. Aku telah menyusun jadwal mengejar materi yang sebenarnya sangat terlambat untuk mengejar UN yang tinggal menghitung hari.

Dari pengalaman nyata yang aku lihat dari teman-temanku dan apa yang aku rasakan sendiri, alasan kenapa aku semangat di waktu-waktu akhir seperti ini karena rasa takut. Iya, tanpa kita sadari, ketika takut kita punya dua pilihan: berusaha atau menghindar. Dan aku memilih berusaha.
Sepuluh hari. Waktu yang masih sangat panjang jika kita bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Mencicil materi, menyelipkan latihan soal, melatih kecepatan membaca (terutama untuk pelajaran bahasa Indonesia) dan berhitung, serta masih banyak cara lainnya untuk memanfaatkan waktu selama sepuluh hari ini.

Jauh-jauh hari sebelum UN aku yakin semua siswa juga takut, namun meihat rentangan waktu yang masih begitu lama, jelas saja beberapa siswa memilih untuk belajar santai dan masih eyeh-leyeh. Aku pun begitu. Walaupun niatku untuk belajar sudah tumbuh, apa daya keinginan untuk leyeh-leyeh jadi lebih besar ketimbang untuk belajar. Akar permasalahan dari semua hal yang serba terburu-buru ini sebenarnya adalah bagaimana cara menumbuhkan niat dan merealisasikannya. Jangan hanya sekadar niat, karena nanti akan berakhir menjadi angan-angan semata. Kita harus merealisasikan apa yang kita ingin lakukan. Kalau dalam ekonomi sih pembelian efektif, dimana keinginan diikuti dengan kemampuan daya beli serta kemampuan mewujudkannya.

Bagaimana sama yang menghindar?
Berlari dari suatu masalah tidak akan membantumu melewatinya. Sadar atau tidak, masalah akan mengejarmu sejauh apapun kakimu melangkah.


Berusahalah. Tuhan membantumu sesuai dengan usaha yang kamu lakukan.

Jumat, 28 Maret 2014

Money Can('t) Buy Us Happiness

Pasti pernah denger money can’t buy us happiness, kan? Iya, itu emang lagunya Jessie J. Tapi selain itu, ngerasa gak sih kalo sebenernya lirik lagu yang satu itu tidak sepenuhnya benar? Maksudku, uang bisa membeli kebahagiaan kita (dalam beberapa hal).

Pertama, apa sih definisi bahagia menurut kamu? Kalo menurut kamu bahagia itu ketika tertawa terbahak-bahak sama temen-temen karena suatu hal gak penting atau karena ada sesuatu yang lucu, jelas banget kalo uang gak bisa membeli kebahagiaan kita. Karena kebahagiaan itu kita yang nyiptain, bukan duit. Bahkan duit pun nggak bisa membeli tawa ceria seseorang. Bandingin ketika kamu jalan di sebuah mall, ngeliat baju lucu, sepatu, tas, hp keluaran terbaru, apa kamu gak tergoda buat membelinya? (kalo aku sih jelas tergoda banget!) Setelah beli, hasrat senang itu muncul dan tanpa sadar kamu merasa bahagia, apalagi kalo baju itu pas banget dikamunya atau sepatu itu dikasih sama orang yang spesial. Sekarang, Money can’t buy us happiness tuh tergantung gimana kamu nyikapinnya. Perspektif mana yang kamu pilih. Mau seneng yang tanpa keluar duit atau seneng hura-hura?

By the way, berbicara duit, sebagai seorang anak kos aku merasa duit merupakan kebutuhan yang sangat fundamental. Ketika jauh dari rumah, kita cuma punya uang yang bisa membantu kita bertahan (selain teman tentunya. Oh iya, jangan lupa kita masih punya Tuhan) dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Ketika kita dikasih uang sama orang tua, apa hal pertama yang bakal kita lakuin? Nah, disinilah aku belum benar-benar bisa mengambil tindakan bijaksana. Sebenarnya, ketika kita menerima uang, secara gak sadar kita ngerasa kalo uang itu terlalu banyak buat kita. Misalnya: aku dikasih uang jajan 800.000 sebulan dan aku merasa aku bisa kok survive dengan 400.000 aja. Karena mindset yang kayak gitu, aku sendiri akhirnya memutuskan untuk belanja ini itu di awal bulan sehingga pas di pertengahan bulan, uang saku udah menipis dan kebutuhan semakin banyak. Apakah hal yang sama terjadi pada kalian? Coba lihat orang tua kalian, ketika nerima gaji, pasti langsung belanja bulanan. Paling tidak yaah 1/3 gajinya sudah habis untuk belanja bulanan dan setelah itu mereka akan mengatur kembali alokasi gaji mereka selama sebulan kira-kira buat apa aja. Nah, gimana sama kita?

Aku sendiri pernah nyoba bikin list budgeting gitu. Aku tulis apa aja yang bakal aku belanjain, batas pengeluaran perharinya berapa. Tapi ya gitu, selalu aja ada godaan dan sesuatu yang gak terduga, misalnya: tiba-tiba ditagihin uang kas, uang buku, diajak makan diluar sama temen, diajak jalan, nonton, dll. Harusnya kalo udah di list gitu kan bisa irit? Iya, seharusnya bisa irit. Tapi itu semua kembali lagi ke diri sendiri. Kepada hasrat kita untuk membelanjakan uang kita. Kita bisa aja ngerencanain misalnya sehari jajan maksimal 20.000 tapi begitu diajak makan sama temen, kita gak bisa nolak, kita ikutan aja dan akhirnya belanja diluar batas maksimal pengeluaran. Kenapa bisa kayak gitu? Tentu bisa, karena beberapa diantara kita berpikir, “ah masih ada duit” iya, emang masih ada duit, tapi kalo hura-hura mulu gak sampe akhir bulan udah ludes duluan duitnya.

Semua orang pasti pernah melakukan pencatatan terhadap pengeluaran mereka setelah itu sadar kalo mereka udah buang-buang duit buat hal yang kurang penting. Kembali lagi, itu semua karena hasrat. Keinginan kita untuk membeli barang itu terlalu kuat, kita bakal senang kalo barang itu jadi punya kita atau kita bisa mencobanya. Seandainya kita bisa menahan sedikit saja hasrat dan bersabar, siapa yang tahu kalo barang yang kita pengenin tau-tau dapet diskon? (pengalaman bener, ih!).

Mengatur keuangan itu perlu, makanya sejak kecil kita dikenalin sama celengan ayam. Belajar untuk membeli sesuatu dengan usaha. Karena dengan usaha, kita tau rasanya berjuang dan berkorban. Makanya kita bakal sayang banget sama apa yang kita beli dari uang tabungan tersebut. Seiring sama perkembangan jaman, teknologi yang namanya ATM juga mulai berkembang. Terus, enakan mana dong, nabung di ATM atau di celengan ya? (wait for my upcoming update yaa!;) happy reading)

Kamis, 09 Januari 2014

Jalanin Aja Dulu

Menurut kalian, pacaran di usia 17 tahun seharusnya seperti apa? No, ini bukan ngajak kalian untuk berpikir secara tidak rasional. Hh, mentang-mentang aku baru nyapuin debu di blog bukan berarti langsung masuk ke topik yang tidak rasional ya, hehe. Aku sendiri ngerasa bingung sama pertanyaanku yang tadi. Maksudku, haruskah sebagai remaja 17 tahun aku berpacaran selayaknya anak SMP yang kemana-mana selalu bareng yang over PDA dengan mention banyak-banyak di twitter atau mendamprat pacarku kalau dia telat jemput aku, lupa sms aku karena ketiduran dengan mention dia di twiter dan bikin TL followers jadi penuh dengan tweet war kita berdua? Atau haruskah aku bersikap seperti orang dewasa dalam menjalani hubungan yang berusaha sabar menghadapi situasi genting sekalipun, tidak begitu sering mengumbar kemesraan yang seharusnya jadi privasi untuk kedua belah pihak saja, mengucapkan kata mesra melalui komunikasi dua arah -hanya antara aku dan dia- bukan melalui mention-an ataupun nge-wall di facebook?
Aku sendiri masih bingung.
Aku sendiri masih belum tau hubunganku yang sekarang ini bakal berlabuh kemana. Karena selalu ada dua kemungkinan: putus atau bertahan. Diawal masa pacaran aku berpikir bahwa hubungan kami bakal baik-baik aja dan cuma ada satu hal yang bisa memutuskan kami: jarak karena kuliah. Tapi rencana dan pemikiran manusia selalu bisa dibelokkin sama Tuhan. Dan sekarang aku berpikir ulang dan berpikir dua kali, mau kemana hubungan ini? aku gak tau, dia juga gak tau. Kita sama-sama gak tau. Kita berdua cuma bisa ngejalanin apa yang ada, apa adanya. Iya bener juga sih, aku dan dia masih SMA, jalan kita masih panjang. Belum lulus aja kita udah berpisah beneran. Maksudku, kita berpisah sekolah, pisah jarak Bali-Tangerang berhubung dia harus PELATNAS untuk AphO tahun depan. Iya, masih harus menunggu sampe tahun depan buat aku dan dia supaya bisa gak berpisah lagi, dan itupun gak lama. Aku udah mikirin time table sedetail mungkin buat nantinya gimana. Dia baru selesai AphO pertengahan Mei, yang berbarengan pula dengan pengumuman UN dan SNMPTN Undangan di bulan yang sama. Kebayang gimana bakal desperatenya aku kalau (kemungkinan terburuk) gak lolos Undangan. No one to blame, undangan itu gambling, kita gak tau siapa aja yang bakal keterima karena semua punya peluang yang sama sekarang. Dan aku agak menyesal kenapa usahaku dari awal gak sekeras usaha temenku yang lain. Kalau usaha belajarku kurang keraspaling tidak usaha menyontekku yang besar, jadi aku bisa bertahan 10 besar.
Oke, lupakan masalah ranking karena cuma bakal bikin sakit hati.
Balik lagi ke bulan Mei. Setelah pengumuman, aku tetep harus bersiap-siap. Entah untuk daftar ulang atau tes SBMPTN. Waktuku sama dia otomatis berkurang. S etelah itu kita bakal pisah lagi. Kuliah di dua tempat yang berbeda.
Aku kadang ngebayangin kalo misalnya aku sama dia putus di tengah jalan, kita sama-saama gak punya pacar setelah itu, terus akhirnya beberapa tahun kemudian kita ketemu lagi dan yeah, kita masih sama-sama sayang terus langsung nikah. Bukankah begitu lebih gampang? Maksudku, aku gak perlu repot-repot menunggu sampe tanggal sekian supaya bisa ketemu dia atau aku menabung supaya bisa mengunjungi dia. Aku tidak perlu marah padanya ketika dia lupa mengabariku, sibuk dengan tugas kuliahnnya dan segala hal yang aku tidak ketahui namun sedang dia lakukan. Aku tidak perlu sakit hati melihat teman-temanku merayakan valentine bersama pasangan mereka sementara aku tidak. Juga tidak perlu sakit hati bila ia jarang meneleponku, lupa meluangkan waktunya untuk skype bersamaku, atau tidak bisa seromantis pasangan lainnya yang juga sedang menjalani LDR.
Iya, aku tahu, yang menjalani hubungan itu kami bukan mereka. Dibalik segala kesempurnaan dan keromantisan mereka, ada pula sisi gelap dan kelam dalam hubungan mereka. Namun apa salahnya iri pada sisi terang dan mengabaikan yang kelam? Ternyata, aku bukanlah satu-satunya orang yang iri dengan segala macambentuk keromantisan pasangan lain. Diapun merasakan hal senada. Ia juga ingin ada seseorang yang dia sayang-selain keluarga- yang menunggunya balik setelah sekian lama diperantauan. Ada seseorang yang merindukan pelukannya, menangis karena terlalu merindukannya, duduk kolam bersamanya, atau digendong dipunggungnya.
Ada sebagian dalam diriku yang merindukan dirinya berucap, “aku kangen kamu ucan” yang sayangnya tidak kunjung menampakkan diri di inbox HP-ku maupun mengisi gendang telingaku saat kita teleponan. Dia juga tidak bertanya apa aku merindukannya. Iya, orang pintar mana yang perlu bertanya apa pacarnya kangen ditinggal berbulan-bulan olehnya? Tentu saja jawabannya iya. Dan sayangnya dia pintar, jadi dia sudah tahu jawabannya sehingga tidak perlu bertanya. Sementara aku bodoh dan bertanya apa dia kangen aku? Tentu saja iya, tapi aku tetap bertanya. Aku merasa bahwa meninggalkan lebih mudah daripada ditinggalkan. Tapi aku mendapati kalau diriku salah. Bahwa meninggalkan berarti meninggalkan semuanya yang ada di tempat sebelumnya. Bukan cuma aku, tapi keluarga, sekolah, teman-temannya. Sementara yang ditinggalkan? Tidak kehilangan apa-apa, hanya ditinggalkan olehnya. Oleh satu orang. Banyak yang ia korbankan untuk meraih mimpinya. Ia meninggalkan aku, meninggalkan keluarganya, meninggalkan pelajaran di sekolahnya. Banyak, dan aku masih egois mengatainya hanya mau meneleponku setiap weekend, melarangnya bangun siang setiap weekend. Aku terlalu egois karena membatasinya. Iya, aku hanya perlu waktunya dan aku selalu ingin weekendnya buat aku. Tapi nyatanya, ia masih sibuk dengan gamenya. Tidakkah dia mendapatkan kebahagiaan ketika bersamaku? Apakah memberikan waktunya untukku tidak sebanding dengan kebahagiaan yang ia dapat dari bermain game?
Ah, harusnya aku tidak membandingkan diriku dengan game, benda visual yang tidak bisa ia peluk, gendong, maupun duduk kolam. Aku jauh lebih berharga dari game...tapi aku tidak tau apakah aku mampu membuatnya sebahagia ketika bermain game dengan teman-temannya.

Aku selalu berpikir kedapannya akan gimana. Aku selalu membayangkan perpisahan, bahwa aku dan dia akan berpisah suatu hari nanti dan aku gak tau itu akan berpisah dengan hubungan ini yang masih melekat ataukah berpisah yang benar-benar berpisah. Tanpa ikatan. Aku bingung, aku tidak tahu sama sekali harus bagaimana. Yang aku tahu hanyalah bagaimana bisa memanfaatkan setiap waktu yang aku punya dengan dia sekarang, bukan memikirkan bagaimana kedepannya. Aku tidak ingin dikemudian hari aku bangun dan merasa menyesal bahwa telah menyia-nyiakan kesempatan yang aku punya bersama dia. Sekarang, aku paham apa yang orang-orang katakan dengan, “jalanin aja dulu” J

Senin, 08 Juli 2013

Temu Kangen

Ini adalah postingan teranyar setelah selama beberapa bulan ini bersemedi entah kemana wkwk. bohong deh, selama ini gak sempet aja buka blog. kangen juga nulis disini.
Selama "masa pertapaan", bukannya satu atau dua peristiwa aja. tapi buayaaaakkk banget berbagai peristiwa yang nguras emosi, air mata, meledakkan tawa, melukiskan senyum.
Gak kerasa, udah bulan Juli aja.
Kalo inget bulan Juli, berarti inget juga kalo bakal jadi anak kelas 3. The oldest dan juga yang berat bebannya buat ngadepin UN. Liburan naik kelas 3 sebisa mungkin dihabisin buat have fun. Padahal sih tekadnya mau nyici peajaran kelas 1 sama 2. tapi apaan, pupus!

a word to say, SELAMAT MENJADI ANAK KELAS 3! :D

Jumat, 08 Maret 2013

Rainbow!

Selasa kemaren, aku sama Ase jalan jalan ke Pantai sanur
duh, berasa anak tk yang baru belajar ngarang deh hehehe.

Tapi ngomong-ngomong anak TK nih ya, dulu kan eksis banget tuh gambaran yang dua gunung, ditengahnya ada pelangi, di pojok kiri ada matahari lagi senyum, dibawah gunung ada sawah ada jalan juga. gambaran pemandangan sederhana yang sebenernya terlalu attached di otak kita. sadar gak sih, gak banyak lho diantara kita yang bisa berfikir out of the box kalo disuruh gambar pemandangan? sisanya yaudah, pasti gambarnya kayak yang diatas gitu.

Pelangi. waktu kecil aku kalo gambar pelangi itu ya tiga warna; merah, kuning, hijau. the end. Tapi dunia anak kecil yang idah emang penuh sesuatu yang simple. Padahal sebenernya Pelangi itu terdiri dari tujuh warna, terjdi akibat pembiasan cahaya. ketujuh warna itu kalo diputer jadinya warna putih; menghasilkan spectrum cahaya.

Sejak kecil, aku gak pernah ngeliat pelangi yang bener-bener jelas, nyata di depan mata. paling liatnya jauh gitu. tapi, beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Kamis kemaren, aku ngeliat pelangi itu dengan jelaaaass banget! dan emang kalo diliat langung warnanya gak bener-bener mejikuhibiniu, tapi itu tuh bagus banget. mungkin aku keliatan norak, dengan ngungkapin keindahan pelangi gini.

Tapi, emang berapa banyak orang sih yang bisa memahami kendahan di dalam pelangi?

Rabu, 06 Maret 2013

Picture to Burn


edelweiss, my guilty-extinct pleasure. Love ya! <3

Senin, 04 Maret 2013

Open-minded


Kita masih bergantung diranting yang mudah patah, kenapa kita tidak mencoba untuk merangkak ke dahan yang lebih kuat?
Aku tau akarnya memang kuat, tapi kini...kita bergelayut pada sebuah ranting. Yang mungkin menopang diriku sendiri saja takkan mampu.

Pagi ini, merupakan awal minggu yang kurang baik. Memulai pagi dengan sedikit kesalahpahaman. Menyinggung masa lalu; itu yang saya lakukan. Apa yang saya dapat? Tidak ada. Sudahkah saya puas? Saya sendiri belum tahu.
Jadi pagi ini, saya berbagi sedikit cerita dengan seseorang.
Dan dari seseorang tersebut pula, saya menerima pencerahan yang sangat berarti hari ini:
Bahwa semua orang memiliki mimpi untuk dikejar dan mereka akan fokus pada hal tersebut sehingga melupakan hal-hal kecil yang menurut orang terdekat mereka sangat lah penting.

Bahwa kemarahan kita sebagai orang terdekat mereka, sebenarnya hanya akan menambah beban mereka dalam mengejar target mereka.

Bahwa kita tidak akan bisa menyelami kehidupan mereka, memikul beban berat yang mereka rasakan dan kita tidak rasakan.

Bahwa kita seharusnya mengerti dan tetap menerima mereka dalam kesederhanaan dan apa adanya mereka.

Mungkin dari seseorang itu aku bisa belajar untuk jadi lebih sedikit “tidak bocah” karena kami mempunyai background yang sama. Karena inilah saatnya membuka cakrawala pemikiran yang baru. Karena menjadi pacar anak pintar tidaklah mudah.